Senin, 16 Maret 2009

Pencerahan atas Renstra SKPD 2009-2013

Dengan visi dan misi pasangan terpilih pada Pilkada 2008 lalu, pasangan KH. Zainul Majdi, MA dan Ir. H. Badrul Munir, MM yang mengusung visi mewujudkan masyarakat NTB yang beriman dan berdaya saing, maka kedepan seluruh SKPD merubah haluan menyesuaikan visi dan misi agar sejalan dengan visi gubernur NTB peeriode 2009-2013.
Walhasil, dibentuklah tim penyusunan Renstra SKPD 2009-2013 pada Distamben Prov. NTB, dengan mengusung visi "Menjadikan Distamben sebagai pengelola ESDM yang utama di Nusa Tenggara". Penyusunan Kali ini, melibatkan semua unit teknis, non teknis dan balai dilingkungan dinas pertambangan dengan menghadirkan narasumber yang kompten dari WI Provinsi NTB, Bapak Darmansyah. Walaupun dalam beberapa kali rapat pembahasan berjalan alot, karena penguasaan esensi renstra belum sepenuhnya diketahui peserta, setidaknya dengan kehadiran beliau sebagai narasumber sekaligus pengarah, cukup membuka wawasan dan paradigma yang terkungkung selama ini. Mengapa...? Karena baru menginjak pada misi, sudah tampak ego sektor yang ditonjolkan, pendeknya 'ini lho gue punya peran'. Dengan pencerahan yang ada, setidaknya disadari bahwa dalam melangkah mengaktualisasikan renstara kedepan dimulai dari visi, misi (nilai), tujuan, sasaran dan kebijakan merupakan pola kebersamaan dalam memperkuat integritas dan eksistensi dinas ke masa depan, ketika telah memasuki Program dan kegiatan silakan cari jalan masing-masing sesuai koridor untuk menggapai sasaran menuju tujuan yang sama sehingga visi dan misi dapat terwujud dan teraktualisasi.

Kehadiran Kepala Dinas, selaku nakhoda dinas sangatlah diharapkan, karena visi yang diusung merupakan produk Kepala SKPD yang secara normatif sebuah harga mati yang tidak bisa didemokratisasikan. Karena beliaulah yang menjadi juru mudi yang mengarahkan kemana kapal akan dibawa berlayar. Kapal bisa saja terbawa arus yang tak sebanding dengan kekuatan mesinnya, maka diperlukan beberapa Mualim dan juru mesin untuk membantu mengoptimalakan kinerja mesin kapal.
Manakala kapal terperangkap badai di tengah lautan yang luas, sementara para mualim dan seluruh ABK akan berusaha menyelamatkan kapal untuk terhindar dari bahaya. Bila usaha tersebut belum memadai, maka cobalah untuk berpandu pada kompas guna menemukan jalur yang lebih aman, minimal terkena imbas namun tidak fatal. Tetapi, bila sang nakhoda membenturkan kapal ke gunung es, maka pecahlah sang Titanic, maka para penumpang kapal akan berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
Syukur-syukur ada kapal penyelamat yang melintas. Yang bisa berenang patut bersyukur, tapi kalo yang nggak bisa ya.. wassalam. Demikian sedikit tamsil yang bisa saya lontarkan, sebagai sebuah pengantar atas penyusunan Dokumen Rencanan Strategis Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTB 2009-2013, dengan menyimak tragedi Titanic sebagai sebuah perumpamaan.
[Pro Admin]


Source: www.Starway.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar